Sejarah Kelembagaan Adat Dayak Tenggalan Desa Belayan

1783314890801.jpg
Gambar: Penyerahan SK MHA Dayak Tenggalan ( Ardi ) Sumber: https://belayan.desa.id/

A. SEJARAH KELEMBAGAAN ADAT DAYAK TENGGALAN DESA BELAYAN

     Di Kalimantan Utara sendiri mereka awalnya hanya mendiami wilayah Sungai Sembakung (Linuang) di Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan. Namun, karena mereka memiliki kebiasaan hidup berpencar dan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya, maka persebaran dari suku Tenggalan ini terus tersebar hingga ke Sungai Semendurut (Sadimulut) tepatnya di wilayah Alung Pulu (hulu sungai Semendurut (Sadimulut) di Kabupaten Malinau.

    Adapun perluasan wilayah tersebut dipimpin oleh Kakek Ampagal, Kakek Yampilikan dan Kakek Ibung Mungkid untuk mencari sumber penghidupan baru. Kakek Ampagal berasal dari Wilayah Pinagal dan Ibung Mungkid berasal dari Simalumung.

    Beberapa saat setelah kedatangan kelompok dari Kakek Ampagal, kemudian menyusul kelompok kelompok lain yang berasal dari Aliran Sungai Sembakung terutama kelompok dari wilayah Taluan untuk pindah dan bermukim ke wilayah Namungkalan (tempat tinggal setelah Alung Pulu) di Sungai Semendurut (Sadimulut). Alasan perpindahan mereka dari wilayah sebelumnya untuk menghindari adanya penyakit kudong (Kusta). Setelah keberadaan dari penyakit kudong (kusta) hilang, maka sebagaian dari anggota kelompok ini kembali ke wilayah asalnya. Sebagian dari mereka juga memilih bertahan dan bergabung dengan kelompok Kakek Ampagal untuk menetap di wilayah Namungkalan. Ketika sumber makanan dan penghidupan mereka sudah mulai habis, maka ke dua kelompok tersebut kemudian berpindah ke anak sungai Semendurut (Sadimulut), tepatnya di wilayah Sangkuliton. Di wilayah tersebut mereka membuat rumah Panjang (Baloi Abuat). Pada saat tinggal di rumah panjang, mereka mulai memilih pembakal atau saat ini dikenal sebagai kepala desa, dan pembakal yang pertama kali terpilih waktu itu adalah Kakek Ampagal. Satu kelompok lagi yang ikut pindah dari Sungai sembakung yaitu adalah Kakek Ibung Mungkid. Wilayah yang pertama kali di tempati kakek Ibung Mungkid adalah Sungai Simpaluay. Kemudian setelah Sungai Simpaluay dilanjutkan ke daerah Kinulay lalu Sinalod Lalu pindah ke Luba dan bergabung ke Kelompok Desa Selidung. 

    Saat berada di wilayah Sangkuliton terdapat banyak penambahan jumlah anggota kelompok baru dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Pertama dipengaruhi karena adanya faktor pernikahan. Kedua adanya permintaan bantuan dari Kakek Ibung Mungkid kepada kepada salah satu pemberani, Kakek Yantobok, dari Sungai Sembakung untuk menjamin kelompoknya agar terhindar dari serangan musuh pada saat zaman mengayau (zaman memburu kepala). Tidak hanya membantu kelompok tersebut, ternyata Kakek Yantobok juga menikah dengan salah satu dari anggota kelompok yang saat itu dipimpin oleh Kakek Ampagal. Sehingga Kakek Yantobok akhirnya menetap dan bermukim di wilayah Semendurut.

    Setelah lama bermukim di Kawasan Sangkuliton, sebagian dari anggota kelompok tersebut memilih berpindah ke wilayah Selidung. Ada juga sebagian dari anggota kelompok masih memilih bertahan dan menetap di wilayah Sangkuliton. Seiring berjalannya waktu, sebagian dari kelompok lainnya yang awalnya belum mau pindah tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk mulai tinggal di wilayah Selidung dan bergabung bersama kelompok lainnya. Keputusan mereka untuk tidak ada lagi yang bermukim di Wilayah Sangkuliton karena meninggalnya ketua kelompoknya, dan kondisi sumber mata pencahariannya sudah mulai menipis. Ketika mereka mendiami Wilayah Selidung, mereka juga memilih adanya pembakal (Kepala Desa) baru yaitu Kakek Pili. Adapun Pembakal/kades selanjutnya setelah Kakek Pili adalah Bajil, Abdullah Simpaladung, H. Rusliansyah, H. M. Ishak, Yagung Balisi.

    Saat bermukim di Wilayah Selidung mereka juga pernah membantu masyarkat suku Dayak Tahol yang berasal dari Malaysia dengan memberikan izin untuk tinggal di wilayah sungai Semendurut (Sadimulut). Suku Dayak Tahol pada saat itu sedang dikepung oleh kolonial Belanda dan membuat mereka susah dalam mencari sumber makanan dan penghidupannya, oleh karena itu mereka mencoba melarikan diri dengan mencari wilayah tempat tinggal baru. Tidak hanya itu, kelompok dari Suku Dayak Tenggalan yang mendiami wilayah Selidung diwakili oleh Kakek Pangeran Ibung kala itu memberikan izin Suku Dayak Tahol untuk tinggal di Wilayah sungai Semendurut (Sadimulut). Kakek Ibung Mungkin ini adalah anak dari salah tokoh pemberani yaitu Yantobok yang pernah melindungi wilayah Selidung.

    Disisilain pada saat Kelompok Kakek Ampagal dan Kakek Ibung Mungkid masih bermukim di wilayah Semendurut. Terdapat kelompok baru dari Suku Dayak Tenggalan berasal dari Sungai Sembakung dibagian wilayah Gulagub melakukan perpindahan ke sungai Semendurut (Sadimulut) tepatnya di wilayah Luba. Tujuan perpindahan kelompok tersebut tidak lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik untuk memenuhi ketersediaan kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kelompok tersebut Bernama Gulagub, dimana nama tersebut diambil dari wilayah asal mereka. Adapun untuk ketua kelompoknya bernama Yansang. Setelah lama bermukim di wilayah Luba. Selain itu, ada juga dari kelompok gulagup ini memilih berpindah ke sungai Liuk Pulutan dan Sebagian berpindah ke Selidung. Setelah beberapa saat Masyarakat yang dari Liuk Pulutan kembali lagi ke Luba. Pada saat tinggal disana, mereka memiliki kehidupan cukup baik untuk tempat bermukim dan dalam memenuhi ketersediaan makanan mereka sehari-hari. Kondisi tersebut membuat dari kelompok Suku Dayak Tenggalan berasal dari kelompok Kakek Ampagal yang sudah cukup lama mendiami wilayah Selidung pun akhirnya turut berpindah ke wilayah Luba. Mereka membuat rumah panjang (baloi abuat) dengan tepi sungai Luba. Sehingga pada saat itu terdapat dua kelompok di satu hamparan wilayah tersebut yaitu berasal dari kelompok Luba dan Selidung.

    Masing-masing dari kelompok tersebut dapat hidup berdampingan satu sama lain, bahkan ketika adanya aturan untuk pembentukan desa, maka masing-masing dari kelompok tersebut secara definitif dibagi dalam masing-masing wilayah administratif desa masing-masing, yaitu Desa Selidung dan Desa Luba. Lalu, pada tahun 2004 ke dua desa tersebut kemudian dilebur menjadi satu wilayah desa yang dikenal dengan Desa Belayan. Dari alur perpindahan tersebutlah asal usul dari Suku Dayak Tenggalan di Desa Belayan. Adapun kata “Tenggalan” berarti terpandang atau suku yang memiliki nama. 

    Dulunya masyarakat dari Kelompok Selidung dan Kelompok Luba belum mengenal adanya kepercayaan, mereka hanya percaya kepada nenek moyang mereka. Tetapi, seiring berjalannya waktu mereka sudah memeluk beberapa kepercayaan seperti Kristen Protestan, Islam dan Kristen Khatolik.

 

Bagikan post ini: