Sejarah Kelembagaan Adat Dayak Tenggalan Desa Belayan
A. SEJARAH KELEMBAGAAN ADAT
DAYAK TENGGALAN DESA BELAYAN
Di
Kalimantan Utara sendiri mereka awalnya hanya mendiami wilayah Sungai Sembakung
(Linuang) di Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan. Namun, karena mereka memiliki
kebiasaan hidup berpencar dan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya,
maka persebaran dari suku Tenggalan ini terus tersebar hingga ke Sungai
Semendurut (Sadimulut) tepatnya di wilayah Alung Pulu (hulu sungai Semendurut
(Sadimulut) di Kabupaten Malinau.
Adapun
perluasan wilayah tersebut dipimpin oleh Kakek Ampagal, Kakek Yampilikan dan
Kakek Ibung Mungkid untuk mencari sumber penghidupan baru. Kakek Ampagal
berasal dari Wilayah Pinagal dan Ibung Mungkid berasal dari Simalumung.
Beberapa
saat setelah kedatangan kelompok dari Kakek Ampagal, kemudian menyusul kelompok
kelompok lain yang berasal dari Aliran Sungai Sembakung terutama kelompok dari
wilayah Taluan untuk pindah dan bermukim ke wilayah Namungkalan (tempat tinggal
setelah Alung Pulu) di Sungai Semendurut (Sadimulut). Alasan perpindahan mereka
dari wilayah sebelumnya untuk menghindari adanya penyakit kudong (Kusta).
Setelah keberadaan dari penyakit kudong (kusta) hilang, maka sebagaian dari
anggota kelompok ini kembali ke wilayah asalnya. Sebagian dari mereka juga
memilih bertahan dan bergabung dengan kelompok Kakek Ampagal untuk menetap di
wilayah Namungkalan. Ketika sumber makanan dan penghidupan mereka sudah mulai
habis, maka ke dua kelompok tersebut kemudian berpindah ke anak sungai
Semendurut (Sadimulut), tepatnya di wilayah Sangkuliton. Di wilayah tersebut
mereka membuat rumah Panjang (Baloi Abuat). Pada saat tinggal di rumah panjang,
mereka mulai memilih pembakal atau saat ini dikenal sebagai kepala desa, dan
pembakal yang pertama kali terpilih waktu itu adalah Kakek Ampagal. Satu
kelompok lagi yang ikut pindah dari Sungai sembakung yaitu adalah Kakek Ibung
Mungkid. Wilayah yang pertama kali di tempati kakek Ibung Mungkid adalah Sungai
Simpaluay. Kemudian setelah Sungai Simpaluay dilanjutkan ke daerah Kinulay lalu
Sinalod Lalu pindah ke Luba dan bergabung ke Kelompok Desa Selidung.
Saat
berada di wilayah Sangkuliton terdapat banyak penambahan jumlah anggota
kelompok baru dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Pertama dipengaruhi
karena adanya faktor pernikahan. Kedua adanya permintaan bantuan dari Kakek Ibung
Mungkid kepada kepada salah satu pemberani, Kakek Yantobok, dari Sungai
Sembakung untuk menjamin kelompoknya agar terhindar dari serangan musuh pada
saat zaman mengayau (zaman memburu kepala). Tidak hanya membantu kelompok
tersebut, ternyata Kakek Yantobok juga menikah dengan salah satu dari anggota
kelompok yang saat itu dipimpin oleh Kakek Ampagal. Sehingga Kakek Yantobok
akhirnya menetap dan bermukim di wilayah Semendurut.
Setelah
lama bermukim di Kawasan Sangkuliton, sebagian dari anggota kelompok tersebut
memilih berpindah ke wilayah Selidung. Ada juga sebagian dari anggota kelompok
masih memilih bertahan dan menetap di wilayah Sangkuliton. Seiring berjalannya
waktu, sebagian dari kelompok lainnya yang awalnya belum mau pindah tersebut,
akhirnya mereka memutuskan untuk mulai tinggal di wilayah Selidung dan
bergabung bersama kelompok lainnya. Keputusan mereka untuk tidak ada lagi yang
bermukim di Wilayah Sangkuliton karena meninggalnya ketua kelompoknya, dan
kondisi sumber mata pencahariannya sudah mulai menipis. Ketika mereka mendiami
Wilayah Selidung, mereka juga memilih adanya pembakal (Kepala Desa) baru yaitu
Kakek Pili. Adapun Pembakal/kades selanjutnya setelah Kakek Pili adalah Bajil,
Abdullah Simpaladung, H. Rusliansyah, H. M. Ishak, Yagung Balisi.
Saat
bermukim di Wilayah Selidung mereka juga pernah membantu masyarkat suku Dayak
Tahol yang berasal dari Malaysia dengan memberikan izin untuk tinggal di
wilayah sungai Semendurut (Sadimulut). Suku Dayak Tahol pada saat itu sedang
dikepung oleh kolonial Belanda dan membuat mereka susah dalam mencari sumber
makanan dan penghidupannya, oleh karena itu mereka mencoba melarikan diri
dengan mencari wilayah tempat tinggal baru. Tidak hanya itu, kelompok dari Suku
Dayak Tenggalan yang mendiami wilayah Selidung diwakili oleh Kakek Pangeran
Ibung kala itu memberikan izin Suku Dayak Tahol untuk tinggal di Wilayah sungai
Semendurut (Sadimulut). Kakek Ibung Mungkin ini adalah anak dari salah tokoh
pemberani yaitu Yantobok yang pernah melindungi wilayah Selidung.
Disisilain
pada saat Kelompok Kakek Ampagal dan Kakek Ibung Mungkid masih bermukim di
wilayah Semendurut. Terdapat kelompok baru dari Suku Dayak Tenggalan berasal
dari Sungai Sembakung dibagian wilayah Gulagub melakukan perpindahan ke sungai
Semendurut (Sadimulut) tepatnya di wilayah Luba. Tujuan perpindahan kelompok
tersebut tidak lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik untuk memenuhi
ketersediaan kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kelompok tersebut Bernama
Gulagub, dimana nama tersebut diambil dari wilayah asal mereka. Adapun untuk
ketua kelompoknya bernama Yansang. Setelah lama bermukim di wilayah Luba.
Selain itu, ada juga dari kelompok gulagup ini memilih berpindah ke sungai Liuk
Pulutan dan Sebagian berpindah ke Selidung. Setelah beberapa saat Masyarakat
yang dari Liuk Pulutan kembali lagi ke Luba. Pada saat tinggal disana, mereka
memiliki kehidupan cukup baik untuk tempat bermukim dan dalam memenuhi
ketersediaan makanan mereka sehari-hari. Kondisi tersebut membuat dari kelompok
Suku Dayak Tenggalan berasal dari kelompok Kakek Ampagal yang sudah cukup lama
mendiami wilayah Selidung pun akhirnya turut berpindah ke wilayah Luba. Mereka
membuat rumah panjang (baloi abuat) dengan tepi sungai Luba. Sehingga pada saat
itu terdapat dua kelompok di satu hamparan wilayah tersebut yaitu berasal dari
kelompok Luba dan Selidung.
Masing-masing
dari kelompok tersebut dapat hidup berdampingan satu sama lain, bahkan ketika
adanya aturan untuk pembentukan desa, maka masing-masing dari kelompok tersebut
secara definitif dibagi dalam masing-masing wilayah administratif desa
masing-masing, yaitu Desa Selidung dan Desa Luba. Lalu, pada tahun 2004 ke dua
desa tersebut kemudian dilebur menjadi satu wilayah desa yang dikenal dengan
Desa Belayan. Dari alur perpindahan tersebutlah asal usul dari Suku Dayak
Tenggalan di Desa Belayan. Adapun kata “Tenggalan” berarti terpandang atau suku
yang memiliki nama.
Dulunya
masyarakat dari Kelompok Selidung dan Kelompok Luba belum mengenal adanya
kepercayaan, mereka hanya percaya kepada nenek moyang mereka. Tetapi, seiring
berjalannya waktu mereka sudah memeluk beberapa kepercayaan seperti Kristen
Protestan, Islam dan Kristen Khatolik.